Ignored

Kulangkahkan kakiku, berusaha menyusuri dinginnya lantai yang hampir membeku. Langkahku terhenti, melihatmu yang duduk terpuruk di sudut ruangan.

Aku menghela napas. Sudah berkali-kali kukatakan untuk tidak keluar dari lingkup ruangan itu. Sama saja seperti kemarin. Kau tetap tak mau mendengar. Atau, memang kau yang tak bisa mendengar lafalan kalimat yang sengaja kuperjelas hanya untukmu?

Kuhampiri dirimu, yang tetap tak menjawab saat ucapan selamat pagi kulafalkan dengan mantap. Seakan terbiasa, kuabaikan apa yang terjadi barusan, dan menyembahkan lututku di sisimu. Kau tetap tak bereaksi. Aku tersenyum.

Berjuta kali aku berusaha menjauhimu. Namun, apa yang kulakukan pada akhirnya akan selalu sama. Aku akan tetap mengunjungimu, mengajakmu berdialog walaupun pada akhirnya akan terlihat hanya aku sendiri yang akan berbicara.

Persetan dengan sebutan tak diperhatikan. Aku sendiri hanya ingin mengisi lembar kosong hidupmu dengan gurauan, kata-kata yang meluncur bebas tak berbatas, atau cerita konyol.

Sampai tak ada satupun lembar yang bisa kuisi.

Kugenggam tanganmu yang hampir membeku. Berusaha memberi kehangatan yang mungkin bisa mencairkan lapisan-lapisan kesendirian dimana kau terperangkap didalamnya.

Tak ada gunanya. Tak berpengaruh.

Waktu terus berlalu, melangkahi siapapun tanpa ampun. Mendahului seolah tak ingin ada yang melangkahi. Tak kusadari, sudah kuhabiskan begitu banyak waktu dengan mendampingimu disini. Kuucapkan salam perpisahan, dan meninggalkanmu.

Gagaaal, gagaaaaaaaaaaaalllll~ T______T

Advertisements

2 thoughts on “Ignored

Leave a pieces, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s