Airbag

#AirbagCover

I need an Airbag

Before I hit the great sadness that approaches

I need an Airbag

It’s too late to avoid it

Malam itu, untuk kesekian kalinya ia tak pulang kerumah. Bukan, bukan ia tak bisa pulang.

Ia benar-benar tidak ingin pulang. Tidak sama sekali menginginkannya.

           

Malam itu, kembali ia menemukan dirinya, berada dalam rute perjalanan terjauh sebuah taksi yang berjalan menuju rumahnya.

Ya, rumah. Tempat dimana ia sama sekali tidak ingin berada di dalam lingkup ruangannya.

On nights that I won’t go home

            The taxi driver only avoids the shortcuts

Deru halus mesin taksi membuatnya tersadar. Terdengar dari radio, suara seorang DJ yang asyik bercakap-cakap dengan seorang tamu. Mereka terus berbicara, tanpa memutar lagu barang sebaitpun. Pembicaraan terus berlanjut.

Ia mendesah pelan. Percakapan itu, menurutnya sungguh tidak penting. Namun, tak sekalipun ia meminta supir taksi mengganti salurannya. Bagaimanapun, tak ada satupun lagu yang ingin didengarnya. Percakapan di radio terus berlanjut. Diputuskannya untuk berkonsentrasi pada dirinya sendiri, walau tak ingin.

Sampai akhirnya, sedikit dari perhatiannya disita oleh tawa menyembur dari sang supir. Rupanya, ia menyimak pembicaraan itu. Merasa tawa sang supir sama sekali tidak penting, ia kembali menekuri jalan raya yang membentang. Seakan jalan itu menyimpan beragam pertunjukan yang menarik.

Tak lama, terdengar sebait lagu mengalun. Seorang pendengar meminta  untuk diputarkan sebuah lagu.

Lagu sedih, yang beberapa bagiannya amat ia sukai. Mendengar lagu itu, ia tahu. Sang penyanyi pasti amat kesepian, terjebak. Lebih dramatis, mengurung dirinya sendiri di tempat dimana ia dapat menyendiri sepanjang hari.

I need an Airbag

Before I hit the great sadness that approaches

I need an Airbag

It’s too late to avoid it

Kepalanya terasa pusing. Banyak hal yang terjadi hari ini.

Ia mabuk. Ia tahu, organ pencernaannya tak bisa menerima sedikit saja vodka melewati tiap inci tenggorokannya dan meluncur mengitari lipatan-lipatan ususnya. Namun, bukan berarti ia akan menghindari setiap waktu minum.

Ia sadar akan penyebabnya. Ia tahu, perihal yang membuatnya harus menahan rasa mual di perut tiap menenggak vodka langsung dari botolnya.

Ia kesepian, dan tak ingin sendirian. Dan ia terlalu sensitif begitu ia berhubungan dengan apapun yang mengandung kesendirian didalamnya.

            I can’t even get properly drunk

            But it’s not like I avoid drinking sessions

Benar, kesendirian adalah sebuah hal yang amat menakutkan baginya. Ia merasa, tak seorangpun ingin berada di sampingnya.    Haruskah ia membagi dua bagian tubuhnya, dan mendudukkannya disampingnya, dan menghabiskan hidup bersama?

Konyol.

            Maybe it’s because I don’t want to be alone

            Or is it because I want it to be obvious that I want to be alone?

Tak lama, terdengar bunyi ponsel berdering. Bukan, bukan miliknya. Siapa orang yang ingin menghabiskan waktu untuk sekedar beramah-tamah dengannya?

Ponsel itu milik sang supir taksi. Ia mengambilnya, dan berbicara sebentar, dan menatap penumpangnya. Yang ditatap tak balas menoleh, supir itu mematikan ponselnya, dan kembali menyetir. Ia menggerutu, sekarang, seharusnya ia berada di kelab, menghabiskan waktu bersama koleganya.

Ia menoleh, matanya menatap speedometer yang terletak di antara tempatnya dan tempat si supir duduk. Tertempel selembar foto keluarga disana. Matanya menangkap wajah sang supir yang menyunggingkan senyum lebar. Ia terlihat bahagia. Sangat kontras dengan keadaannya sekarang.

Ia mendesah. Supir itu rupanya memiliki keluarga dan rumah yang selalu menantinya.

Ia tidak kesepian. Tak seperti dirinya. Ia memiliki rumah, namun sama sekali tak ingin berada disana. Tak ada tempat yang dituju.

Dan satu lagi. Tak ada siapapun yang menantinya.

There is no home, or there is nowhere to go

Or is it that there are lots of places to go

But, no one to wait for me?

Ia benar- benar merasa sendiri. Tenggelam dalam parit kesedihan, tanpa siapapun yang ingin mengulurkan tangan untuk membantunya keluar dari paritnya.

            I guess I’m all alone again

            I guess I’m all alone again

            I guess I’m all alone again

            Once again

Ia sampai pada klimaks. Emosinya sedikit mendidih, ia punya banyak energi negatif tersimpan, namun tak tahu dimana menyalurkannya. Dan sekarang, simpanan energinya terlampau banyak, dan siap meledak kapanpun.

            I’m dangerous right now

            Don’t crash into me

Hujan turun, taksi yang ditumpanginya melewati seekor pudel liar yang menggonggong kearahnya. Dan di saat yang bersamaan, matanya menangkap tanda rawan kecelakaan yang cukup besar.

Pikirannya melayang, pada kekasihnya yang telah mendahuluinya. Ia berhasil melakukannya, membunuh dirinya sendiri dengan membiarkan mobilnya terjun ke jurang yang membentang di sisi jalan yang sama.

Dan setetes air mata berhasil lolos. Ia menangis. Ia merasa, kematian makin menyedihkan. Karena ia akan tetap sendirian, bahkan setelah mati.

            The number 1 next to the word Death,

            Seems so Lonely

Hari mulai gelap. Ia berusaha mengeja satu per satu masa lalunya. Dan ia benar-benar membutuhkannya sekarang. Ia, kekasihnya.

Kekasihnya, Airbag-nya. Pelindung dari segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.

Atau mungkin, ia tak membutuhkannya? Biarkan kekasihnya menyimpan airbag untuknya di alam sana. Biar saja ia mati, terselip diantara puing-puing taksi yang berhamburan.

I need you

Yes, I need you

My Airbag

Dirasakannya taksi berbelok. Kawasan rawan kecelakaan sudah dilewati. Sekali lagi, ditatapnya kawasan rawan kecelakaan tersebut. Terlihat dua ekor burung merpati terbang.

Ia terhindar dari kematian. Dan masih hidup. Ia belum membutuhkan Airbag-nya.

            Not again

________________________________

Note: Hmm, aku dapet inspirasi setelah baca satu fanfic, castnya Tablo. Aku lupa dimana. Dan aku putusin buat bikin versi remakenya.

Advertisements

2 thoughts on “Airbag

  1. SAENGI~~ *teriakpaketoa

    Wuaah.. maap banget eon baru sempet ke sini u,u

    Jujur ya, saeng, ini tulisan kamu emang bener2 semakin berkembang.. Tulisan di atas beneran ngegambarin kesendirian seseorang.. Bagus loh! (y)

    Keep writing, ya.. Semangat ! 😀

  2. Unnieeeeeeee~~~~ *nari ala india* *nabrak pohon*
    Kyaah, nggapapa unnieee.. aku ucapin selamet karena udah berhasil menyelesaikan hiatus. (eh, udah beneran selese belom ya unn?) Tinggal nunggu NEM-nya kan? Aku doakan, hasil akhirnya memuaskan. Taun lalu, aku cuma dapet NEM 26, 6… #inikenapamalahcurhat
    Kyaa, makasih ulasannya unnie.. *bow* ini sebenernya mah masih belum sempurna menurutku, kalimatnya ada beberapa yang kurang epektip. Aku akan belajar lebih banyak kedepannya.

    Yup, makasih komentarnya, jangan bosen kemari unnie.. SEMANGAT JUGA~! 😉

Leave a pieces, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s