Where’s Your Hijab?

#WherwsYourHijab

Kulangkahkan kakiku memasuki kelas, dan melihat kerumunan di sudut kanan ruangan. Tampak beberapa kaum jetset dari kelasku yang turut berada dalam kerumunan itu.

Aku melirik sebentar, lalu kembali melangkah. Pikirku, mungkin salah satu dari mereka memiliki ponsel baru, atau seorang dari mereka baru saja resmi berpacaran dengan salah satu laki-laki jorok di kelasku. Di dunia ini, hal sepele bisa jadi terlalu besar ketika seluruh perhatian tertuju padanya.

Kutarik bangkuku, ketika seorang teman laki-lakiku memanggil. Ia satu-satunya anak laki-laki yang kuanggap sebagai pertahanan terakhir dari generasi yang mengenal deodoran, mandi sebelum berangkat sekolah, menyisir rambut ke samping tanpa jambul, dan menyikat giginya dengan baik. Pendeknya, ia selalu hidup bersih dan rapi.

“Apa?” Jawabku malas. Ia menyodorkan novel kecil yang dipinjamnya dariku dua minggu lalu.

“Ini buku lo, makasih ya, gue suka isinya.” Ucapnya seraya menyunggingkan senyum.

“Kalo lo suka, jangan lupa selipin lima ribuan yah,” Kubalas senyumnya dengan seulas senyum tipis, saat hendak memasukkan novel tersebut, ia melanjutkan pembicaraannya.

“Lo tau kenapa anak-anak pada ngumpul di situ?” ia menoleh ke arah kerumunan tadi.

“Nggak. Gue terlalu males buat tau dan nggak mau tau kecuali ada yang ngasih tau.”

Benar. Aku terlalu malas untuk mengetahuinya. Bagiku, hidup hanya diabdikan untuk urusan yang penting, bukan tetek-bengek dan remeh-temeh payah seperti itu.

“Kalo begitu, gue udah berbuat baik ama lo. Ngerapet sini!”

Kucondongkan badanku beberapa senti. Oh Tuhan, sebenarnya aku merasa kurang nyaman dengan posisiku sekarang ini. Tapi, biarlah. Bertindak bodoh itu boleh, asal jangan berlebihan.

“Dia,” ia menyebutkan nama salah satu sahabatku, “Pindah agama. Liatin aja, kerudungnya udah dia lepas.”

Aku tertegun. Mendengar itu, tubuhku serasa tersambar ratusan ribu volt tegangan listrik. Aku melirik kearah kerumunan itu, tampak ia berada di tengah-tengahnya, terduduk di kursi, tersenyum pada teman-temannya. Kulihat seorang teman bergerak memeluknya.

“Lo nggak bohong kan ya?” tanyaku meyakinkan.

“Nggak lah. Cek aja sendiri.” Jawabnya. Aku menggeleng, aku belum siap menerima kenyataan. Aku terdiam, tegangan listrik yang menyengat tubuhku seakan bertambah. Mataku memanas.

“Kenapa lo?” tanyanya. Aku menggeleng.

“Gue tau lo kaget, gue juga pertama kali tau kaget kok. Padahal, dulu dia paling rajin ke musola, kok bisa-bisanya dia pindah agama.”

Aku tak menjawab, ia beranjak dari bangkunya.

“Udah ya, gue mau kesono dulu.” Ucapnya seraya meninggalkan bangkuku.

Kutangkupkan wajahku pada telapak tangan, dan tanpa sadar, tangisku pecah.

Benci padanya, jelas saja. Ia terlihat menjijikkan saat berkeliaran tanpa sehelai pun benang yang menutupi kepalanya. Kecuali itu, aku merasa berjuta rasa dilesakkan ke dalam dadaku. Marah, benci, kesal, jijik, dan banyak dari itu, perasaan yang tak bisa tergambarkan oleh rangkaian aksara ciptaan penyair ternama sekalipun.

Aku merasa benci dan marah yang berlipat-lipat padanya dan pada diriku sendiri. Karena ia mengabaikan begitu saja nasihat yang telah kuberikan padanya hingga mulutku berbusa, dan ia terlalu mudah melepas aqidah yang sudah lama melekat pada dirinya. Dan aku jauh lebih benci pada diriku sendiri, karena tak mampu mencegahnya keluar dari lingkup agama yang terlah lama dianutnya.

Aku merasa kesal pada diriku sendiri, karena tak bisa berbuat apapun, bahkan untuk sekedar bertanya padanya, alasan yang membuat ia menukar kepercayaannya. Terlebih lagi pada dirinya, yang sama sekali tidak berfikir, akibat dari perbuatannya tersebut.

Dan aku merasa jijik, pada dirinya yang lebih mirip seperti pelacur jalanan daripada pelajar SMP dengan seragam lengan pendek dan rambutnya yang digerai. Di luar itu, aku lebih merasa benci pada diriku yang sampai sekarang tak berbuat apapun, bahkan sekedar menggeser duduk. Energi yang kusiapkan dari sarapan yang cukup banyak tadi, hilang begitu saja. Meskipun tak dipungkiri bahwa aku juga tidak makan apapun sebelum berangkat sekolah siang ini.

Bodoh, aku terlalu bodoh.

Tak lama berselang, seseorang menepuk bahuku. Aku menegakkan tubuhku.

“Hai,” Ucapnya. Ia berdiri di depanku, dengan senyum yang mengembang seperti biasanya. Biasanya, aku akan langsung memeluknya dan membisikkan beberapa kata ke telinganya. Namun, aku urung melakukannya. Dan hanya menatap matanya seperti biasa.

Kerudung kamu mana?” tanyaku dengan tampang polos sambil mati-matian menahan emosi. Jika boleh, pastilah aku sudah mendorong tubuhnya ke tembok, dan menjejalkan hujatan-hujatan kasar padanya. Ia tahu, bagaimana mimik wajah, nada bicara, dan sebesar apa emosiku saat marah. Jadi, ia pasti tahu, kalau nada bicara dan mimik wajah yang sekarang kutunjukkan padanya hanya berpura-pura semata.

Ia tak menjawab, kubuka resleting tasku, dan mengeluarkan kerudung cadangan yang selalu kubawa.

“Kalo kamu lupa pake, ini. Pake aja. Dan buat nutupin lengan baju kamu..” Kuulurkan sehelai kerudung dan jaket tipis yang kupakai sebelum berangkat sekolah tadi.

Ia tak menerimanya, sudah kuduga. Kutarik lagi baju dan jaket itu, berdiri dari dudukku, dan mendekatkan wajahku padanya.

“Maaf kalo kedepannya aku bakal bersikap dingin sama kamu. Ada hal yang nggak boleh dilakukan dua orang yang berbeda keyakinannya. Dan sekarang, kita udah jadi dua orang yang berbeda. Perbedaan itu ada pada iman dan aqidah.” Ucapku lirih seraya mati-matian menahan air mata yang akan meluncur kalau saja aku tidak menabahkan diri lebih intens.

Ia terdiam, aku beranjak dari dudukku, dan berlalu.

Sekali lagi maaf. Kita berbeda sekarang.

Advertisements

6 thoughts on “Where’s Your Hijab?

  1. Saeng, ini bagus banget! Apalagi pas paragraf ““Dia,” ia menyebutkan nama salah satu sahabatku, “Pindah agama. Liatin aja, kerudungnya udah dia lepas.”” Itu berasa nohok banget asli.

    Udah ah, gatau mau komen apalagi. Good job! 😀

Leave a pieces, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s