Detoksifikasi

“Kamu kenapa?” Ucapmu seraya menepuk bahuku.

Aku menoleh, dan berikutnya aku merasa menyesal telah menoleh. Bukan orang lain, kamu yang muncul, dengan senyum yang menghiasi wajah ayumu seperti biasa.Dalam keadaan biasa,Β  pastilah aku akan menghambur ke pelukannmu, menanyakan kabarmu, dan mengakhirinya dengan senyum lebar.

Tapi, kali ini tidak.

“Kamu kenapa?” Kau melingkarkan tangan mungilmu ke bahuku. Oh Tuhan, sekali lagi, dalam keadaan biasa, aku pasti akan menikmati rangkulanmu. Tidak, tidak, sepertinya ini harus diralat, aku pasti akan sangat-sangat menikmatinya. Lebih dari caraku menikmati sentuhan dari orang lain.

Tapi, kali ini tidak.

“Galau yaa? Mikirin siapa nih?” Kelakarmu seraya mengibas-ngibaskan tangan seinci di depan wajahku.

Aku tetap membisu dan tetap memasang ekspresi datar. Kau mengambil tempat disampingku, dan duduk diam. Mungkin hanya sekedar berbasa-basi? Mungkin. Aku tidak tahu, dan tidak mungkin begitu saja aku menebak isi hati ornag lain, apalagi orang yang susah ditebak sepertimu.

“Kamu belom jawab pertanyaanku loh..” Ucapmu sambil menggeser dudukmu sejengkal lebih dekat denganku.

Kugerakkan mulutku, hendak mengucap sepatah-dua patah kata. Namun urung kulakukan, otot-otot mulutku kaku akibat terlalu lama membisu. Brengsek, untuk kesekian kalinya mulutku membangkang dari perintah tuannya.

Sebenarnya aku ingin sekali menarik tanganmu, menyeretmu ke suatu tempat, dan memuntahkan seluruhnya, seluruh pikiranku sekarang padamu, agar kamu merasakan kombinasi dari sensasi nyeri, mual, pening, dan sakit hati yang sedari tadi menyiksaku.

Kau tahu? Aku memikirkanmu. Kau tahu mengapa sekarang aku sering melamun, menangis, dan berbicara sendiri tanpa sebab?

Ah, sudahlah, tak perlu berteriak-teriak lagi dalam hati. Toh kamu juga tidak tahu. Pokoknya, semuanya karena kamu.

Kamu. Ya, kamu, manusia yang entah untuk apa diciptakan Tuhan untuk dicintai, dibenci, dan diperebutkan banyak orang. Yang sekarang malah terduduk disampingku, dan bukannya bergaul dengan kaum jetset seperti biasanya dan membiarkanku sendiri.

“Aku..” Oh, sebuah kata meluncur dari mulutku tanpa kuminta. Sudah kubilang, mulutku memang tidak bisa diatur.

“Kenapa?” Tanyanya.

“Eh.. tidak.” Jawabku pelan.

“Yakin? Kamu yakin?”

Oh, untuk sekedar yakinpun sebenarnya tidak. Aku berada dalam kondisi yang paling tidak prima sekarang.

Karena kamu. Kamu yang bisa bertransformasi menjadi berbagai pribadi dalam satu waktu hanya padaku. Pribadi yang egois, manja, pemarah, emosional, perhatian, peka, lembut, dan pemurung.

Semua itu kamu lakukan, Hanya didepanku.

Kamu bisa mengabaikanku dalam sepuluh menit. Dan dalam sepuluh menit berikutnya, kamu bisa berubah menjadi manusia paling manis di depanku. Dan berikutnya, kamu bisa berubah menjadi manusia yang paling pemurung. Minus dengan keadaan serapuh aku sekarang.

Sebenarnya, kau menganggapku apa? Robot yang tak punya hati sanubari?

Yang berbicara tanpa mengedepankan perasaan dan nurani?

Yang akan diam saja jika kau abaikan.

Yang akan mematung apabila kau memarahiku hanya karena sebuah kesalahan kecil?

Yang akan membisu jika kau menyindirku?

Yang tak akan menangis apabila hatinya merasa sakit?

Tidak, sayang. Aku manusia.

“Bener kamu nggak kenapa-kenapa?”

Aku beranjak dari dudukku, dan menepuk bahumu.

“Tidak. Aku baik-baik saja.”

Aku lega sekarang, bukan karena berhasil meloloskan kebohongan dari mulutku, tapi memang karena memang benar-benar merasa lega. Rasanya seperti pecandu narkoba yang sedang didetoksifikasi. Merasa sakit, sekaligus lega dalam waktu yang bersamaan.

“Beneran?”

Aku mengangguk, dan beranjak dari dudukku.

“Ya, aku baik-baik saja.”

Memang, aku merasa baik-baik saja. Untuk sementara.

Advertisements

4 thoughts on “Detoksifikasi

  1. Wohoo~~ Setelah aku tinggal UN, tulisanmu beneran makin keren aja saeng πŸ˜€
    Diksimu juga berkembang, beneran! Aku ngerasain tokoh ‘aku’ yang nyembunyiin segala masalahnya di dalam hati, dan tulisan ini keliatan banget ditulis dari hati ya ,_,

    Udah gitu aja deh, bingung mau komen apa XD
    SEMANGAT menulis ! πŸ˜€

    • Sembari menunggu kembalinya unn Helmy, daku bertapa di gunung bromo dahulu, jadinya yah.. seperti ini. *boong boong* :3

      Alhamdulillah kalo maksud dari tulisan ini nyampe ke hati unnie, aku ngetik postingan ini dari pengalaman pribadi. Dengan mata berkaca-kaca sambil ngelap ingus.. :3 aku orangnya ngebatin terus sih.. πŸ˜₯

      Oke, terimakasih komennya unnieee, SEMANGAAAAAAAAAT~!

    • Huaa, annyeong unnieeeee~
      iya, kemana aja nih unn? Kangen loh aku.. :3

      Iyap, pas kupost dan kubaca ulang, aku baru sadar kalo ini nge-jlebb banget. T_____T

      Makasih komennya unnie, tak tunggu kunjungan berikutnya yoo~ πŸ˜€

Leave a pieces, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s