[Vignette] Chukkae Chae

Title: Chukkae Chae 

Author: Classievip21 (@sfbclassievip21

Rating: PG-13 Length: Vignette (1119 words)

Genre: Romance, Hurt, with a little bit smut  

Cast: Park Bom-Lee, Lee Chaerin

_______________________________________________

Sore itu,

Sore beratap mendung beralaskan rerumputan yang setengah basah. Terduduk diatas bukit, dua insan yang sedang berdialog. Atau melakukan sebuah pembicaraan yang tidak bisa disebut dialog, karena hanya satu dari keduanya yang berbicara walaupun tidak terlalu sering. Yang satu lagi, hanya mendengarkan. Entah itu benar-benar mendengar, atau hanya duduk merenung tanpa mendengar sama sekali.
Salah satunya adalah Lee Chaerin, wanita berwajah lembut dengan gaya berpakaian sporty, namun dengan ukuran yang selalu kebesaran. Jaket unisex oversize kelabunya yang sengaja dikancingkan rapat-rapat membuat tubuh mungil didalamnya tenggelam, jeans hitam yang dikenakannya membingkai setiap lekuk kakinya dengan sempurna, rambut strawberry blonde sepunggungnya tertutup seluruhnya dengan hoodie jaketnya yang berwarna senada.
Dan yang satu lagi, Park Bom-Lee. Supermodel wanita dengan long-wavy-brunette hair yang tertata halus alami dengan poni. Sweater rajut berlapis mantel putih yang dikenakannya menyembunyikan tubuh berlekuk indah di dalamnya, syalnya sengaja ia biarkan menutupi wajahnya sebatas leher hingga pangkal hidungnya, setengah menutupi wajah yang seincipun tak tertutupi make-up. Hari ini, ia sengaja keluar dengan tampilan yang kelewat sederhana. Ia tak ingin repot-repot membetulkan pakaiannya di tengah angin yang terus berembus.
“Youngbae menyukaiku, Kami baru saja berpacaran empat jam yang lalu,” Ucap wanita berwajah lembut, bola matanya bergulir, bergerak beberapa derajat melirik supermodel disampingnya dengan tatapan yang sulit dijabarkan.
Yang dilirik, hanya membisu. Pandangannya lurus, menatap jurang yang membelah bukit tempat ia dan Chaerin duduk sekarang dengan tatapan hampa.
Bommie menghela napas perlahan, jelas ia tidak senang harus menerima kabar itu. Ia menyukai Dong Youngbae, pria Mohawk dengan pembawaan lembut yang sudah disukainya semenjak duduk di sekolah menengah. Pria yang lebih berperan sebagai pengawal ketimbang pasangan dalam menjalin hubungan. Begitu polos, manis, protektif, dan menggoda. Wanita mana yang tak jatuh hati dengannya?
Dan Bommie adalah salah satu dari mereka yang termasuk dalam penggemar rahasia Dong Youngbae. Namun, alih-alih Youngbae berbalik menyukainya, pria itu malah memilih Lee Chaerin sebagai kekasihnya. Bukan dirinya. Merasa menumpahkan emosi dengan meledak-ledak tak jelas bukan pilihan terbaik, ia lebih memilih diam dengan pikiran yang dibiarkannya kosong.
Tak dapat dipungkiri, hatinya terasa sakit, memang.
Emosi, jelas saja, namun luapan emosi itu tersedot ke dalam satu titik bernama kehampaan sekarang. Dan semua itu berimbas pada mulutnya yang terus membisu.
Ia tak bisa menyalahkan siapapun sekarang. Menyalahkan Youngbae, jelas tak bisa. Sudah kehendak pria itu untuk memilih wanita manapun yang disukainya.
Namun, kenapa yang dipilihnya harus Lee Chaerin, sahabatnya sendiri?
Chaerin sendiri juga tak bisa disalahkan. Menolak dan menerima cinta seseorang juga sudah menjadi haknya. Terserah padanya, mau memilih siapapun pria yang disukainya.
Namun sekali lagi, kenapa harus dia?
Kenapa harus sahabatnya sendiri yang berpacaran dengan orang yang disukainya?
“Maafkan aku, Bommie-ah.” Suara serak Chaerin menghenyakkan Bommie dari lamunannya. Matanya membulat sejenak, sebelum akhirnya kembali sayu.
“Maafkan aku. Seharusnya aku juga memberitahumu bahwa aku juga menyukai Youngbae.” Chaerin menundukkan kepalanya. Bommie sendiri tetap pada posisinya, dengan wajah yang bertumpu pada tangan yang bertumpang pada kaki yang ditekuk.
Kenapa cinta segitiga dalam sebuah persahabatan itu harus ada?
Kenapa sebuah persahabatan harus rusak hanya karena cinta penuh hasrat yang bercokol tanpa ampun di dalamnya?
“Mianhae Bommie-ah. Seharusnya, aku lebih awal memberitahumu.” Chaerin menengadahkan kepalanya ke atas, menatap langit yang makin kelabu, samar-samar, terdengar suara petir, bau hujan pun mulai tercium.
“Dan sekarang aku tahu, kau tersakiti karena ulahku. Aku benar-benar menyesal, Bommie-ah. Maafkan aku,”
Bommie membisu, matanya menatap hampa, bibirnya terkatup rapat.
Lebih awal memberitahu? Tidak, terima kasih. Bukannya menyembuhkan, itu hanya akan memperparah sakit hatinya.
Jika ia benar-benar merasa menyesal, mengapa ia bisa sampai hati menerima pernyataan cinta Youngbae?
Benar-benar tidak punya hati.
Hujan turun. Bau khas hujan yang sedari tadi menyeruak, berevolusi menjadi titik-titik air hujan yang bertubi-tubi jatuh mengujam tiap jengkal tubuh bumi bersamaan dengan angin dingin yang terus bertiup. Cukup deras, dan membuat pakaian mereka berdua basah kuyup seketika. Alih-alih lari menghindar dan berteduh di tempat yang terlindung, mereka tetap duduk terdiam, tak seincipun mereka merubah posisi masing-masing, seakan tubuh mereka menantang hujan.
Chaerin membisu. Ia tak tahu harus berbuat apa sekarang. Ia sudah meminta maaf pada Bommie. Namun, yang sedari tadi diajak bicara tetap saja membisu. Entah marah, entah tidak mendengar, atau diam-diam malah menaruh dendam.
Dan ia memutuskan untuk tetap menunggu Bommie, sampai ia memaafkannya. Dan itu jujur saja, membuat fisiknya tersiksa. Tubuhnya menggigil, kulitnya memucat, dan bibirnya membiru. Pakaian dan rambut pirangnya sendiri juga sudah basah kuyup. Tubuhnya terlalu lemah untuk melawan suhu dingin.
Bommie sendiri masih tetap pada posisinya. Hanya saja tanpa bibir dan kulit yang berubah warna. Pikirannya sendiri, tak lagi kosong sekarang. Tiga kata yang memenuhi pikirannya, Chaerin, Youngbae, dan Cinta. Mengingat Chaerin, membuatnya teringat pada Youngbae. Itu sudah membuatnya hatinya sedemikian sakit.
Dan mengingat Youngbae tak membuatnya lebih baik. Itu justru memperparah sakit hatinya, mengingat Youngbae, hanyalah melayangkan ingatannya pada cinta tak berbalas yang dialaminya.
Rasanya, berlipat ganda lebih menyakitkan dibanding sebelumnya. Apa lagi yang lebih parah dari itu?
Lee Chaerin. Ia benar-benar….
Terdengar suara sesuatu terbanting, disusul dengan tarikan napas yang naik-turun. Bommie menoleh. Dilihatnya Chaerin terkapar tak sadarkan diri.
Bommie menghela napas. Jika tak mengingat bahwa yang terkapar itu adalah Lee Chaerin dan seandainya saja ia membawa pisau lipat, ia pasti sudah membunuh wanita didepannya, membuang mayatnya ke jurang, dan melarikan diri.
Tapi, itu hanya sebatas bayangannya, hanya sebatas fantasinya. Alih-alih membunuh Chaerin, Bommie justru mengulurkan tangannya, menggotong wanita itu ke dalam mobilnya. Dan mengendarainya hingga sampai di sebuah apartemen. Apartemen itu, milik Lee Chaerin.
Bommie keluar dari jaguarnya setelah menyetir dengan kecepatan yang gila-gilaan, dan membopong Chaerin keluar. Rasa benci yang sebelumnya bersarang di hatinya, dibuangnya jauh-jauh untuk sementara. Sebesar apapun rasa bencinya pada Lee Chaerin, ia tetaplah sahabatnya. Paling tidak, ia harus berbuat kebaikan pada Chaerin sekali lagi. Sekali lagi.

____________________________________________________________________

At Chaerin’s Apartment
Bommie menghela napas lega. Setelah bersusah payah membuka pintu yang terlindung oleh kata sandi, akhirnya ia berhasil masuk. Tanpa menunggu lebih lama lagi, dibopongnya Chaerin masuk kedalam ruangan, dan menidurkannya di atas ranjang.
Bommie terduduk, dadanya naik-turun berusaha mengatur napas. Ekor matanya masih mengawasi Chaerin yang kunjung tak sadarkan diri. Bommie merogoh saku mantelnya, mengeluarkan ponsel layar sentuhnya, dan mengelap layarnya dengan ibu jari, sebelum mengetik sebuah pesan pendek, dan mengirimkannya. Selesai mengetik, dimasukkannya ponsel kedalam sakunya, dan bangkit dari duduknya menuju ranjang Lee Chaerin.
“Chaerin-nie. Selamat atas hubunganmu dengan Dong Youngbae. Berbahagialah.” Lirih Bommie. Dibungkukkannya tubuhnya, sebelum bibirnya mengecup bibir Chaerin yang warna birunya berangsur-angsur memudar, dan melumatnya perlahan, dan menyudahinya dengan menjilatnya lembut.
“Berbahagialah, Chae. Kujadikan bahagiamu sebagai bahagiaku juga.” Gumamnya, sebelum membuka pintu, dan berlalu.

____________________________________________________________________

Aduuuh *gegulingan*
Endingnya anta banget dah yak -_-
Pengennya bikin fanfic straight, love triangle normal yang endingnya datar-datar aja. Tapi malah terkontaminasi ama smut aneh macem ini…. *kelojotan*
Yang ngebaca tolong komen yah. Jangan pura-pura gaptek loh. Allah maha melihat dan maha tahu :3

Advertisements

Leave a pieces, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s