[ITL Series] 2 –A Hurtful Goodbye

Into The Light

Isseodobaby

Go Eunbi, Kwon Risae | Ashley Choi, Kim Joomi, Lee Sojung, and others

Angst, Friendship, Tragedy | Chaptered | PG-13 (for a light-kissing scene)

2 – A Hurtful Goodbye

September 2nd, 2014. 00.13

“Apa aku boleh meminjamnya, Eunbi?” Tanyamu saat aku mengeluarkan boneka pisang kesayanganku dari dalam tas.

Kau tahu, kak? Boneka ini adalah pemberian fans yang selalu kubawa kemanapun aku pergi. Boneka ini… memberiku banyak energi jika aku merasa lelah, dan memberiku alasan untuk tersenyum saat sedih.

Kak, melihat wajahmu yang sangat lelah, kupikir tidak apa-apa jika kuberikan bonekaku padamu. Semoga energi positif dari boneka itu bisa berpindah padamu. Kuberikan bonekaku, dan kau tersenyum sambil memeluknya.

“Good night, Eunbi-ya.” Kau mengucapkan selamat tidur dengan aegyo-mu, lalu, kau tertidur dengan bersandar ke bahuku.

“Selamat malam, kak.”

Aku melongok ke bangku di baris depan. Ashley dan Zuny sudah tidur. Birthday Girl Sojung juga tertidur di sampingmu. Tidak heran jika mereka kelelahan, jadwal hari ini padat sekali.

Aku juga merasa sangat lelah, namun sama sekali tidak bisa memejamkan mataku. Yang masih terjaga hanya aku dan manager oppa yang masih sibuk menyetir.         Entah karena syuting terakhir kami sangat menyenangkan, atau karena hari ini adalah ulang tahun Sojung sehingga aku tidak bisa berhenti berpikir tentang itu semua.

Saat memandangi titik-titik air hujan yang jatuh ke atas kaca, hujan membuatku berpikir tentang banyak hal. Tentang mimpiku menjadi seorang penyanyi yang lebih bersinar lagi, dan tentang masa promosi Ladies’ Code yang sudah berakhir. Meskipun penjualan album kita tidak terlalu memuaskan, tapi aku senang mendengar lagu kita diputar dimana-mana, melihat nama kita muncul di berbagai situs berita, dan aku senang melihat banyak fans yang berteriak saat kami tampil di atas panggung.

Aku memandang titik-titik air yang meluncur jatuh dari kaca sekali lagi.     Kak, apakah kita bisa seperti hujan, yang selalu mau mencoba untuk bangkit, meskipun terjatuh berkali-kali?

Kak, selain itu, aku juga memikirkan keluarga yang terpisah jauh dariku. Diam-diam aku merindukan mereka, terlebih lagi Eomma. Saat Chuseok nanti, aku ingin pulang ke rumah dan banyak-banyak makan masakanya. Sebenarnya aku ingin mengajakmu menginap di rumahku juga, tapi kau bilang kau ingin berlibur ke Hongkong. Apa boleh buat?

“Eunbi?” Panggil manager oppa yang masih sibuk menyetir.

“Ya?” Balasku.

“Rise sudah tidur, ya? Tadi dia memintaku memainkan lagu-lagu kalian disini. Sebaiknya kusetel atau tidak, ya?”

“Mainkan saja lagunya, Oppa.” Jawabku, “Tapi, setelah itu, mainkan lagu pilihanku, ya?”

Ia menoleh ke belakang, “Lagu apa?”

Aku menyebut sebuah judul lagu. Lalu, manager mengangguk. Lalu, terdengar lagu Kiss Kiss mengalun, manager mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti beat lagu. Memang benar katamu, lagu ini adalah lagu yang membuat semua orang yang mendengarnya tersenyum.

Aku memejamkan mata mengikuti lagu yang terus mengalun.     Kak, ini adalah lagu yang selalu membuatmu tersenyum saat mendengarkannya, kan? Apalagi saat aku dan Zuny menyanyikannya dengan aegyo kami. Kau akan mencubit pipi kami saat kami berusaha menggembungkannya supaya sama tembamnya seperti pipimu.

Kak, aku harap, kita bisa terus melakukan ini. Kuharap, kita bisa terus bersama seperti ini.

“Eunbi, lagu yang tadi jadi diputar?” Tanya manager setelah I Won’t Cry, lagu terakhir di playlist selesai dimainkan. Aku mengangguk.

Dan sekarang, satu-satunya suara yang terdengar hanyalah lagu Fix You dari Coldplay. Ashley yang memberitahuku tentang lagu ini. Katanya, lagu ini adalah lagu yang selalu didengarkannya saat sedang depresi dan membuat semangatnya muncul kembali.

When you try your best but you don’t succeed

When you get what you want but not what you need

When you feel so tired but you can’t sleep

Stuck in reverse…

Kak, hujan turun semakin deras, sampai manager oppa harus menyalakan wiper berkali-kali. Dan aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi, entah apa.

Kupanggil stylist unnie yang duduk tepat di depanku. Ia terbangun, dan melirikku. “Apakah ia masih tidur?” tanyanya sambil menunjuk kearah kau dan Sojung. Aku mengangguk.

Seketika, kurasakan van berguncang hebat. Aku dapat melihat air muka manager dan stylist unnie yang berubah panik.

Perlahan, pandanganku mengabur tertutup airmata.

And when your tears come streaming down your face…

“Eunbi! Ada yang tidak beres dengan mobil ini!” Teriak manager oppa. Aku hanya menelan ludah, masih dengan tanganku yang menggenggam tanganmu.

Kupejamkan mataku kuat-kuat saat airmataku mulai jatuh membasahi pipi. Kurasakan van oleng sekali lagi. Kali ini ke kanan, dan membuat kepalaku terbentur kaca van dengan keras. Rasanya sakit sekali.

Kulirik member lain sekali lagi, juga kau yang masih tertidur di pundakku.

Kumohon. Jangan…

When you lose something you can’t replace…

When you love someone but it goes to waste…

Lalu van berputar dengan sangat kencang. Stylist unnie berteriak, dan membangunkan yang lain. Kecuali kau yang masih terlelap memeluk bonekaku.

Setelah itu, kulihat sesuatu yang paling tidak kuinginkan terjadi. Ashley yang duduk di tengah, memegangi kepalanya yang terantuk kesana-kemari.     Sojung menjerit-jerit saat wajahnya berulang kali membentur kaca dan kursi di depannya dengan sangat keras. Zuny hanya bisa memejamkan matanya sambil memanggil-manggil ibunya saat kepala dan lehernya membentur apa saja yang ada di dekatnya.

Could it be worse?

“Rise unnie! Rise unnie!” Seru Ashley yang memanggil-manggil namamu.

Entah apa yang menggerakkan tanganku untuk menutupi kedua telingamu.

“Eunbi, kau dengar aku? Bangunkan dia!” Teriaknya panik. Aku menggeleng. Ashley berusaha berbalik menghadapku dengan berpegangan pada apapun yang ada di dekatnya, lalu menarik tanganku,

“Bangunkan dia, Eunbi! Kau gila?”

“Unnie, kumohon…” Ucapku parau.

“… Jangan ganggu tidurnya.”

“Tapi…”

Kalimat terakhir Ashley tidak bisa kudengar lagi, saat van menabrak sesuatu -yang sepertinya adalah tembok pembatas jalan. Dan aku mendengar suara benturan yang luar biasa keras.

Lights will guide you home…

Kepalaku terbentur sekali lagi, rasanya jauh lebih sakit daripada yang tadi. Pandanganku berkunang-kunang, dan kurasakan darah mulai mengaliri wajahku.

Aku bisa mendengar Ashley meneriakkan nama kami semua, juga stylist unnie yang masih melindungi kepalanya. Dan aku melirik kau yang sepertinya setengah terbangun. Napasmu tersengal, dan kau merintih pelan.

And ignite your bones…

Kak, satu lagi hal yang paling tidak kuinginkan terjadi.     Kulihat darah merembes dari kepala bagian belakangmu, kontras sekali dengan rambut brunette-mu. Dan beberapa tetesnya juga membasahi telapak tanganku.

Aku meneriakkan namamu. Kudengar stylist unnie dan Ashley yang mulai menangis panik.

Van kembali membentur sesuatu. Dan saat itu, aku hanya bisa memelukmu, saat kepalamu terbentur sekali lagi dan darah yang mengucur dari kepalamu semakin deras. Kak, rasa sakit di kepalaku juga semakin menjadi, pandanganku mulai berkunang-kunang. Kau merintih sekali lagi.

“Manager! Ada mobil di depan kita!” Seru stylist unnie. Manager membelokkan setir ke kanan, dan terdengar bunyi seperti… sesuatu yang patah. Entah apa.

“Gawat! Roda bagian belakangnya!”

Kak, satu-satunya yang kupikirkan saat itu, jika aku tidak bisa tertolong lagi, setidaknya aku harus menyelamatkanmu.

Van terus melaju dengan kencang, dan berputar-putar entah kemana. Sojung menjerit, sepertinya wajahnya terbentur lagi. Dapat kulihat dengan sudut mataku, saat stylist unnie berusaha menarik Zuny agar kepalanya tidak terbentur lagi.

Kak, apakah aku salah langkah jika hanya berpikir untuk melindungimu? Aku ingin melakukan hal yang sama pada Sojung. Tapi tanganku sangat sulit mencapainya.

Dan saat tanganku berusaha menarik Sojung agar kepalanya tidak membentur kursi depan, sekali lagi kurasakan van membentur sesuatu, kemudian berhenti sama sekali.

Dan sekarang kepalaku terasa sakit sekali. Kak, sepertinya, ini adalah rasa sakit terhebat yang pernah kurasakan sepanjang hidupku.

Napasku tersengal. Aku melirikmu, yang tampaknya kesulitan bernapas. Kulihat Sojung yang memegangi rahangnya. Aku berharap semoga ia baik-baik saja.

“Sojung-ie?” Panggilku.

Ia hanya merintih.

“Kau baik-baik saja?” Ia mengangguk, dan menyandarkan kepalanya.

Dengan sudut mataku, dapat kulihat beberapa mobil ambulans dan pemadam kebakaran mendekati van.

Kak, bertahanlah. Mereka akan menyelamatkanmu, menyelamatkan kita.

Dan seperti dalam drama, kurasakan waktu seakan berhenti. Aku melihat Sojung yang masih memegangi wajahnya. Kau tahu, aku merasa bersalah melihatnya seperti ini, kak.     Kulihat Zuny yang meringis menahan sakit, dan Ashley yang menelungkupkan wajahnya pada telapak tangannya dan mulai menangis.

Dan aku menangis sekali lagi, karena menahan sakit yang makin menjadi. Karena aku merasa bodoh tidak mampu melindungi kau dan yang lain. Dan karena aku mengkhawatirkanmu. Ralat, sangat-sangat mengkhawatirkanmu.

Tuhan, tolong selamatkan mereka lebih dulu dariku. Tolong, selamatkan mereka meskipun aku harus kehilangan nyawaku sendiri.

Aku menghela nafas. Kak, aku lelah, dan rasanya, aku tidak akan menahan sakit lebih lama lagi. Bolehkah aku memejamkan mataku?

September 3rd, 2014. 01.50

No One’s POV

Ashley memandang pintu van yang dibuka dengan paksa oleh beberapa petugas pemadam kebakaran. Lututnya terasa lemas melihat satu-persatu kawannya dibawa keluar van.

Pertama, Sojung. Ia baik-baik saja, hanya mengalami fraktur pada tulang wajahnya dan harus menjalani operasi.

Setelah Sojung, ia melihat Rise. Kondisinya kritis dan harus segera dioperasi akibat trauma pada kepala dan perutnya.     Bulu kuduknya meremang melihat darah yang menetes dari kepala unnie-nya, saat paramedis menggotong tubuhnya keluar dari van.

Ia melirik Zuny yang berdiri di sebelahnya. Ia hanya terdiam, sementara kepalanya tertunduk dan pipinya basah –entah karena hujan yang terus turun atau karena air mata. Ia menggamit ujung jemari maknae-nya tersebut.

Jika ia tidak bisa melindungi siapapun lagi, paling tidak ia harus melindungi Zuny.

Dan saat sesosok tubuh lain dibawa keluar van. Ashley menggigit bibirnya melihat beberapa orang dari paramedis tersebut menyeka airmatanya saat membawa tubuh itu menuju ambulans.

Eunbi. An angel that ready to fly up high.

RIP

Go Eun Bi (1992-2014)

A great friend that will always in everyone’s heart.

Advertisements

Leave a pieces, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s