[ITL Series] 3 –The Day After

Into The Light

Isseodobaby

Go Eunbi, Kwon Risae | Ashley Choi, Kim Joomi, Lee Sojung, and others

Angst, Friendship, Tragedy | Chaptered | PG-13 (for a light-kissing scene)

3 – The Day After

September 3rd, 2014. 02.27

Eunbi’s POV

Kak, yang kulihat sekarang hanya ruang hitam statis yang seakan menyelimutiku. Gelap sekali. Bahkan aku tidak bisa melihat telapak tanganku sama sekali.

Aku takut. Aku ingin membuka mataku, tapi sulit sekali. Rasanya seperti berton-ton pemberat dibebankan pada kelopak mataku.

Dan ketika aku berhasil membuka mata, aku mendapati diriku berada di luar van. Tidak tertidur di dalamnya seperti yang terakhir kali kuingat. Kepalaku juga tidak terasa nyeri lagi.

Kak, apa yang terjadi?

Aku menghampiri ambulans yang terparkir tak jauh dari van, sebelum mendapati tubuhku terbaring dengan kepala berlumuran darah di dalamnya. Meskipun tahu kebenarannya, aku sendiri masih tidak percaya.

Seems like
God made my wish come true. Tuhan menyelamatkan kalian meskipun aku harus kehilangan nyawaku sendiri.

Aku menghela napas panjang –walaupun rasanya tidak seperti bernapas kalau kau tahu maksudku– lalu beralih menuju ambulans tempat Sojung berada, dan menggenggam tangannya yang terkulai. Yah, meskipun rasanya seperti menggenggam angin, rasanya hampa.

Kak, walaupun ulang tahun Sojung berakhir seperti ini, hari ini tetap menjadi yang terbaik bagiku.     Aku tidak akan melupakan senyumnya saat kami menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya. Walaupun mungkin orang-orang akan mengenang tanggal 3 September sebagai hari yang menyakitkan setelah ini, aku akan tetap mengenangnya dengan baik.

Karena tanpa tanggal ini, Sojung tidak akan lahir. Aku tidak akan bisa bertemu dengannya, denganmu, juga dengan Ashley dan Zuny. Dan bisa saja, aku bisa saja tidak didebutkan dan mungkin aku akan gagal meraih mimpiku. Aku benar-benar berterima kasih.

Kak, kuharap, ia tidak kesulitan merayakan ulang tahunnya di tahun-tahun berikutnya.

Aku keluar dan berlari mengikuti iring-iringan ambulans yang mulai berlalu. Anehnya, aku bisa berlari dengan sangat cepat, nyaris terbang malah.

Lucunya lagi, kak. Hujan deras yang sedari tadi mengguyur mendadak berhenti, berganti menjadi langit cerah bertabur bintang yang seolah saling berkejaran, indah sekali.

Aku menengadahkan kepala ke langit sejenak, dan menghela napas.

Kak, aku berandai-andai bisa menyaksikan ini bersamamu.

September 3rd, 2014. 04.52

Rise’s POV

_/\__/\_____/\___/\__/\___/\_____

Aku membuka mataku, dan mengerjap. All I see is white.

Tidak ada siapapun. Tidak ada apapun. Hanya aku dan tempat putih ini –yang entah apa namanya. Aku berlari kesana-kemari, berharap menemukan pintu, portal, atu apapun yang bisa membuatku keluar dari tempat ini.

Sialnya, aku tidak bisa.

Aku lelah berlari, jadi, kuputuskan untu beristirahat. Kuhempaskan diriku dan berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum akhirnya aku bisa berada disini.

Ulang tahun Sojung. Van. Boneka pisang.

Eunbi.

Ya ampun.

Mengapa ini bisa terjadi?

Eunbi, jika kau mendengarku, jawablah. Mengapa hanya aku bisa ada disini, dan mengapa bukan kau yang menemaniku, tapi ruangan putih statis ini?

Mengapa kini hanya ada aku, tidak ada kamu?

Tidak ada kamu yang biasanya melontarkan lelucon-lelucon konyol yang membuatku tertawa. Tidak ada kamu yang selalu bergelayut manja di bahuku.      Tidak ada kamu yang sering mengajakku keluar dorm untuk membeli lemon
cone favoritmu. Tidak ada kamu yang selalu menggenggam tanganku saat tidur. Tidak ada kamu yang memintaku menyisiri rambutmu dan mengepangnya setiap pagi.

Tidak ada lagi.

Karena tidak ada kamu.

Hanya aku.

September 3rd, 2014. 15.00

___/\__/\__/\___/\___/\__/\___/\___

Kak, setiap jam, setiap menit, setiap detik, aku menghabiskan waktu di sisimu. Beberapa jam berlalu setelah operasi pertamamu dan setelah semua orang berlalu, aku masih berdiri di tempat yang sama.

Kak, salahkah jika aku berharap semuanya hanyalah mimpi buruk yang akan berakhir jika aku terbangun? Dan salahkah jika aku berharap kau akan membuka matamu, dan tersenyum memanggil namaku?

Tapi aku sadar, harapan itu terlalu indah untuk jadi kenyataan. Kau masih tertidur, dan aku masih menatapmu dari bibir jendela tanpa bisa melakukan apapun.

Kak, sepertinya kau tidak merasa sakit sama sekali, ya? Kau hanya terlelap dengan perban yang membalut kepalamu, seperti yang terakhir kali kulihat di van.     Dan kini, kau tak ubahnya putri yang tertidur dan hanya akan bangun jika seorang pangeran mengecup bibirnya.

Aku tahu ini gila, saat aku beringsut mendekatimu, lalu mengecup pelan bibirmu yang terhalang respirator. Namun, kau tak kunjung terbangun.

Aku sampai pada titik keputusasaanku ketika aku menyadari bahwa ini bukan dongeng. Ini adalah realita.     Namun kita hidup dalam kehidupan yang dapat dikorelasikan dengan cerita dongeng, kan?

Karena kau adalah putri, namun aku bukan pangeranmu.

Kak, bangunlah secepatnya. Jika tidak, bangunlah besok. Tak mengapa jika pada akhirnya aku harus sendiri disini, karena aku akan terus bersamamu, kemanapun kau pergi.

Advertisements

Leave a pieces, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s