[ITL Series] 5 –Live On

Into The Light

Isseodobaby

Go Eunbi, Kwon Risae | Ashley Choi, Kim Joomi, Lee Sojung, and others

Angst, Friendship, Tragedy | Chaptered | PG-13 (for a light-kissing scene)

5 – Live On

September 6th, 2014. 08.34

___/\____/\______/\__/\___/\____/\____

It’s been three days.

Apakah kau benar-benar lelah, sehingga kau tidak bisa membuka matamu? Apakah –mungkin– kau masih terjebak di dalam ruang putih tempatmu berada sekarang?

Atau, apakah kau senang berada disana sehingga enggan keluar dari sana?

Kak, apapun yang terjadi, aku masih berharap kau terbangun. Ralat, bukan cuma aku, tapi semua orang. Keluargamu, Ashley, Zuny, dan Sojung dan semua orang yang mendoakanmu di luar sana. Kami percaya kau dapat melakukannya, kak. Kami akan terus bersamamu sampai akhir.

Kak, aku sayang padamu!

September 6th, 2014. 08.34

Rise’s POV

___/\____/\_____/\__/\___/\____/\____

Eunbi, aku menyerah.

Aku sudah mencarimu kesana-kemari, dan yang kutemukan hanyalah diriku yang berlari mengelilingi seluruh kota untuk mencarimu. Dan sekarang, ketika membuka mataku, aku tidak lagi berada di kamarku.

Aku menengadahkan kepalaku, memandang sekeliling. Tunggu, ini koridor… koridor rumah sakit, kan?

Aku berlari mengelilingi koridor, dan menemukan beberapa orang yang duduk di deretan bangku tepat di depan sebuah pintu. Aku membaca plang yang tertera di atasnya.

Ajou University Hospital: Intensive Care Unit.

Hei, ada apa sebenarnya?

Aku terkejut saat mendapati bahwa aku mengenali orang-orang itu. Ashley, Zuny, kelurga mereka, dan beberapa orang staf.

Eunbi, dimana kau? Dan dimana Sojung? Dan… hei? Mengapa mereka semua menangis?

“Per, permisi?” Sapaku. Namun, tidak ada yang menjawab.

“Hei? Ashley?” Aku berjongkok dan melambaikan tanganku, ia diam saja. Aku berteriak dan melambaikan tanganku sekali lagi. Hasilnya sama saja.

Eunbi, aku melangkah mendekati pintu ruang ICU, dan mengintip kedalam, mencoba memperjelas semuanya.

Dan aku mendapati sesosok wanita yang tertidur dengan kepala terbalut perban tebal, dan wajah yang terhalang respirator.

A-apakah itu aku?

Dan dua wanita yang berdiri di sisinya…. Eomma? Ri Ae Unnie?

Ada apa sebenarnya?

“Senang bisa bertemu lagi, kak.” Kudengar suara yang sudah sangat familiar kudengar. Aku menoleh.

Eunbi, benarkah itu kau?

Berdiri menatapku dengan pakaian yang berbeda dengan yang terakhir kulihat. Kau tampak cantik dengan dress putih yang kau kenakan, dan wajahmu terlihat bercahaya.

“Kemana saja kau? Aku mencarimu!”

Mataku berkaca-kaca ketika menghambur ke pelukanmu. Kau hanya diam, dan mengusap punggungku, sebelum menggamit tanganku lalu pergi.

Dan, disinilah kita berada. Duduk di taman rumah sakit, tidak ada siapapun kecuali kita disitu. Kau tak banyak bicara, dan kulihat beberapa kali, kau seperti menghela napas berat, anehnya, tanpa udara.

“Maaf membuatmu bingung dengan semua ini.” Kau mengawali pembicaraan tanpa melirikku. Rambut pendekmu sedikit bergoyang saat kau menunduk.

“Ada apa sebenarnya, Eunbi?” Balasku.

Kau menghela menggigit bibirmu. Sebelum mulai berbicara.

“Kak, kita mengalami kecelakaan tiga hari yang lalu. Member lain dinyatakan selamat, sementara aku dinyatakan tewas dalam kejadian itu.”

Kau menggigit bibirmu sekali lagi, sebelum melanjutkan ucapanmu, “Jadi, seperti yang kau lihat, aku sudah mati –tidak. Kita sudah mati. Jadi, kau tahu mengapa tidak seorangpun menyadari kehadiranmu?”

Eunbi, katakan hal lain. Ini semua hanya lelucon, kan?

Soon, I’ll be alone again up there. Because I died, but you still have hope. Kau hanya sedang berada dalam masa kritis.” Kau tidak melanjutkan kata-katamu, dan hanya menundukkan kepala.

Kau menggenggam tanganku, matamu berkaca-kaca,     “You must live on, kak. Berjuanglah melawan rasa sakitmu, dan bangunlah. Semua orang mengkhawatirkanmu di luar sana.”

But, I’m feeling uneasy leve you alone.”

Ladies’ Code must live on too. Bukankah kita berjanji untuk terus berjuang untuk meraih mimpi kita masing-masing? Aku tidak ingin menjadi penghalang antara kau dan mimpimu, kak.”

“Ta-tapi, tidak harus seperti ini, Eunbi. Kau sahabatku, dan jika aku meninggalkanmu, aku tidak akan bisa melanjutkan mimpiku, karena… aku tidak bisa hidup tanpamu!”

Kau menggeleng, dan menggenggam tanganku lebih erat.

“Kak, demi aku, dan demi semua orang yang mendoakanmu di luar sana. Kau harus tetap hidup. Tidak perlu memikirkanku. Pikirkan semua orang yang mengkhawatirkanmu. I’ll always be with you, like a best friend would.

“Eunbi…”

“Berjuanglah, kak.”

“Aku melakukan ini untukmu…”

Kau mengangguk, menghapus airmatamu, dan tersenyum. Perlahan, kau menjauh, sebelum sosokmu memudar dan akhirnya lenyap sama sekali.

Advertisements

Leave a pieces, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s