Beautiful Fears

Beautiful Fears

Petang yang menyongsong, tak serta membuatmu mempercepat ritme langkahmu. Kulihat, kamu sengaja berjalan lamban –atau sesekali mundur menyejajari langkahku yang memang tidak bisa secepat orang kebanyakan.

“Kubilang, jangan menungguku,” ujarku sambil mengayun kaki perlahan, melanjutkan langkahku.

“Kamu melarangku?” Balasmu seraya berpindah ke sisi kanan jalan yang lengang.

“Pulanglah, keluargamu menunggumu.” Aku sengaja mengalihkan pembicaraan, dan mengayun kakiku lagi.

“Memangnya, keluargamu tidak?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan,” Aku mengakhiri pembicaraan dengan skeptik. Kemudian berjalan memunggungimu yang –sepertinya tengah berdiri mematung karena tak sama sekali kudengar ketuk Converse-mu.

Tap… tap… tap…

“Hei,” Dengan mudahnya kamu menjajari langkahku, “Mau dengar ceritaku saat ujian olahraga tadi?”

Mulutku masih terbungkam. Antara mengiyakan dan terlalu malas untuk sekedar memberikan telinga.

“Aku mendapat nilai sempurna pada praktek basket tadi.” Kamu menganggap diamku sebagai ‘iya’. Kau menyeringai gembira, sebelum lisanmu lanjut bercerita.

Tuk.

Langkahku terhenti, tertarik menyimak kisahmu. Angin berhembus, mengacak surai chestnut setorso milikmu yang sengaja kau gerai dan menguarkan aroma apel yang melewati indera pembauku.

“Kukira, akan sulit melakukan shooting dari jarak tujuh meter. Namun, tidak sesulit yang kukira, ya,”

“Selamat,” Kulukis sebaris senyum tanda ikut gembira, lalu melanjutkan langkahku.

Perjalanan masih amat panjang, dan kau tak kunjung jua lelah berceloteh. Kau menceritakansemuanya. Tentang paham filsafat yang tengah kau pelajari, seorang kakak kelas yang –katanya menyukaimu, hingga ujian geografi dadakan yang membuatmu panik. Kau seakan tak pernah lelah berbicara, meskipun beberapa kali kulihat kau mendorong saliva sekedar membasahi rongga tenggorokmu.

Jingga mulai bersambut biru kobalt. Petang bersambut malam, namun semburat matahari masih menyala-nyala biarpun tak sebegitu nyata terlihat. Aku masih tertatih, dan alih alih lelah lalu meninggalkanku, kamu masih sabar bersisian denganku.

“Lihat! Ada sepasang merpati!” Serumu seraya menunjuk dua ekor  yang bersisian mengepak sayap mengangkasa. Kuhentikan langkahku, dan pupil mataku mengikuti gerak merpati-merpati yang terus terbang ke arah utara hingga lenyap dari pandangan.

“Kamu menyukainya?” Tanyamu padaku, tak pelak aku mengangguk sebab aku memang benar menyukainya.

“Suka. Merpati adalah simbol cinta yang abadi.” Jawabku segera. Mataku menerawang, mencoba menembus lapisan kumulus kejinggaan yang indah. Naluri fotografiku mendadak saja muncul, sayangnya aku tidak membawa Canon-ku.

“Kenapa?” Kau bertanya.

“Simpel saja, merpati itu hewan penuh cinta, simbol cinta abadi. Jika betinanya mati, sang jantan tidak akan berganti pasangan dan merasa sangat berduka. Ia akan terus menunggu di sisi bangkai pasangannnya, tidak mau makan dan minum, hingga akhirnya ikut pergi menyusul. Begitupun sebaliknya.” Jawabku panjang lebar.

Dan seketika, aku heran mengapa bisa berujar sebanyak itu.

“Hebat sekali,” Ujarmu seraya bertepuk tangan, “Seharusnya, manusia juga dilahirkan dengan rasa seperti itu, hingga cinta mereka juga abadi.”

“Sayangnya, kita bukan merpati,” Aku terkekeh kecil. Agaknya, kau mulai berhasil menghiburku.

“Jika reinkarnasi itu ada, sepertinya aku ingin dilahirkan kembali sebagai merpati betina. Entah jantannya siapa,” Iris hazelmu menerawang, mungkin berkhayal. Aku memilih menekuri jalan yang kupijak sesaat, lalu mengikutimu.

Aku terus berjalan, jalan terus membentang tak ada habisnya. Kemudian, kurasakan tanganmu menggenggam pergelangan tanganku.

“Hari sudah mulai gelap,” Kau menyebut namaku sebelum melanjutkan, “Ayo kita lekas pulang,”

“Sulit.” Jawabku enggan.

“Aku bantu kok.”

“Takut,”

“Kenapa?”
Tatkala irisku tengah asyik melukisi cakrawala, kau mengingatkanku pada coretan sketsa yang tak ingin kurampungkan. Aku enggan menjawab.
“Hanya takut, tak bisa berjalan seperti ini lagi.” Sial tak kepalang, mulutku membangkang dan jawaban terlontar begitu saja dari bibirku.
“Itu sebabnya ada aku,”
Genggamanku terlepas, kruk yang sedari tadi kugenggam jatuh begitu saja. Dan batang tubuhku yang semula tegak, kini runtuh. Aku jatuh terduduk, mulai tersedu.
“Aku hanya merepotkan saja.” desahku berat, “Asal kau tahu saja, ini semua membuatku putus asa.”
“Kau tidak merepotkan, kok.” Balasmu, lalu duduk di sampingku tanpa peduli pada rambutmu yang menjuntai menyentuh aspal jalan.
“Mudah saja bagimu untuk berbicara.” Balasku tergagap setengah tersedu.
“Karena mudah, makanya kulakukan.” Kau duduk disampingku.
“Kau tahu operasinya besok, kan?” Ucapku parau, “Dan kau tidak mengerti setakut apa diriku.”
“Aku tahu, dan aku mengerti.” Kau mengusap punggungku yang masih terbalut rompi sekolah.
“Aku takut, akan kehilangan untuk yang kedua kalinya.”
Sejenak, hening melingkupi kita, hari sudah benar-benar gelap. Kau berpindah sisi, menghadapku yang tertunduk namun masih dapat melihatmu.
“Kau tidak akan tahu sebelum mencoba, kan.”
“Kalau kubilang aku takut, ya aku takut.”
“Dengar,” Kau meremas bahuku dengan kedua tanganmu, “Tidak ada salahnya untuk mencoba kesempatan kedua. Siapa tahu, dengan kaki barumu, kau bisa berjalan dengan normal lagi, kan?”
“Apa jaminannya kakiku akan normal kembali?”
“Apa aku harus mencabik kakiku, lalu mengamputasinya dan memasang kaki palsu supaya kau yakin?”
Aku tertegun. Sejenak, kutatap irismu dan tak ada yang kulihat kecuali raut wajah tegas yang menggantikan raut wajah jenakamu dua puluh menit terakhir.
“Ayo, kita pulang. Kau harus beristirahat supaya operasinya berjalan lancar.”
Aku masih membatu.
Kau berdiri, kemudian mengulurkan tangan padaku,
“Aku bersamamu, selalu.”
Sejenak, kurasakan ragu. Namun, kusambut uluranmu dan berusaha berdiri.
“Selalu?”Tanyaku ragu.
“Pastinya.” Kau tersenyum, lalu menarikku setengah berlari.

Advertisements

Leave a pieces, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s